Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Permintaan Tentang Meisa

Eskalator membawa Bunda, Meisa dan aku menuju lantai dua Mall Kelapa Sawit. Minggu lalu Bunda berjanji akan membelikan baju baru bila kami mendapat ranking pertama di kelas dan aku berhasil. Setelah berputar-putar tanpa kantong belanjaan satupun, akhirnya mataku tertuju pada suatu etalase toko yang memajang baju model terbaru yang selama ini aku inginkan.

“Bun! Aku mau yang ini yaaa!” kataku seraya menunjuk baju yang dimaksud. Aku mengajak Bunda masuk kedalam toko dan memesan baju tersebut kepada sang penjaga toko.

Tuh kan Bun, baju ini bagus banget, pas buat aku.” Aku berputar-putar setelah keluar dari kamar pas.

“Ih kamu kan gendut ngapain pake baju kayak gitu, ga cocok. Mending buat aku aja.” Meisa langsung menyela dengan wajah innocent nya.

“KAMU!” Aku dan Meisa langsung beradu mulut dihadapan Bunda dan si penjaga toko. Menyadari kami ditatap berpasang-pasang mata, Bunda memutuskan untuk tidak jadi membeli baju itu. Bunda menarik kami berdua keluar dari toko itu sebelum terjadi hal yang lebih memalukan lagi. Wajahku masih bersungut-sungut apalagi waktu Meisa menunjukkan wajah kasian-deh-lo nya ke aku. Dia selalu menunjukkan wajah penuh kemenangan kalau berhasil menggagalkan kebahagiaanku.

“Kenapa sih kamu gak bisa ngebiarin aku seneng dikiiiit aja?!” kataku saat perjalanan pulang dimobil.

“Kenaapa yaaa.....” Meisa menunjuk-nunjuk pipi dengan ekspresi yang so imut. Makin saja aku kesal dengannya.

“Errrrrgh!”

“Udah udah ah kalian kayak anak kecil aja. Yasudahlah ya baju kan bisa dibeli kapan-kapan, lagian di lemari kamu bajunya segunung.” Kata Bunda menengahi dengan wajahnya yang santai.

Sebenarnya punya saudara kembar itu sangat asyik. Kami bisa saling bertukar pakaian bahkan bisa menggantikan posisi satu sama lain karena kemiripan yang kami miliki. Tapi entah kenapa dalam kasusku sepertinya hal-hal yang aku sebutkan diatas adalah hal yang mustahil. Aku dan adikku, Meisa bagaikan air dan api. Kami berdua sama-sama tidak mau kalah, tidak mau mengalah. Selalu ingin jadi yang nomor satu dan yang paling banyak mendapat perhatian. Lalu....aku juga merasa bahwa Bunda lebih sayang sama Meisa.

Sesampainya di rumah aku menelepon sahabatku, Sarah.

“Sar! Kamu harus tau ya aku kesel setengah mati sama si Meisa! Dia tuh selalu aja bikin gara-gara biar aku ga bisa ngedapetin apa yang aku mau. Gak Cuma sekali Sar, sering banget!” kataku dengan emosi yang meluap-luap.

“Yaampun Meita, bosen deh setiap kamu nelepon pasti kayak gini. Ngeluh terus tentang adik kamu. Mau gimana juga dia itu adik kamu Mei, gak bisa diganggu gugat.” Sarah malah menasehati aku.

“Kamu tau kan aku orangnya gamau kalah Sar.”

Pembicaraan masih terus berlanjut di telefon saat Meisa berteriak.

“Taaaa! Udahan dong nelefonnya, kelamaan nih!”

Aku baru sadar sudah satu jam telefon rumah kupakai. Ah, Bunda juga tidak keberatan kok, kenapa Meisa yang harus mengatur aku? Tapi karena aku kakak yang baik tidak mau membebani tagihan telefon orangtua, maka aku sudahi dulu pembicaraan itu. Meisa langsung merebut gagang telefon itu dari tanganku.

“Biasa woy.” Kataku sambil berjalan menunjuk wajahnya. Akupun berjalan menuju ruang makan dan tanpa disangka aku menemukan kue tart sisa ulangtahun sepupuku.

“Eh apa-apaan itu makan kue sembarangan, aku duluan yang nemuin kok.” Kata Meisa sambil menelefon.

“Udahlah nelfon nelfon aja gausah mikirin yang lain.” Aku terus menyendok cheese cake itu di meja. Tiba-tiba ada lemparan bola bekel saat aku mau memasukkan sendok kedalam mulutku. Alhasil sendoknya terjatuh dan aku gagal makan kue itu. Kulempar lagi bola bekelnya dan mengenai hidungnya saat dia sedang tertawa terbahak-bahak. Giliran aku tertawa puas. Akhirnya dia berhasil kubuat kesal.

“Bundaaaaaaa!” Meisa berteriak manja.

“Lihat nih perbuatan Meita! Masa hidungku dilempar bola..” katanya kembali dengan wajah innocent.

“Mei, Bunda bilang jangan kayak anak kecil, kamu kan sudah besar harusnya menjaga adikmu ini.”

“Tapi Mei marah pasti ada sebabnya Bun, dan penyebabnya itu selalu Meisa!” kataku sambil menunjuk nunjuk wajah Meisa. Bunda selalu saja membela Meisa, dengan alasan aku sebagai kakaknya. Padahal kami hanya berbeda 5 menit saat lahir. Dia saja tidak pernah memanggilku dengan sebutan ‘Kakak’. Aku langsung masuk dan mengunci diri di kamar. Ini adalah puncak kekesalanku yang sudah menumpuk terlalu banyak pada Meisa. Aku memutuskan minggat ke rumah Sarah.

“Aku berharap Meisa tidak pernah ada.” Kataku sambil berlari menuju jalan raya. Ya seperti cerita-cerita di sinetron Indonesia, si pemain menyeberang jalan raya dan tiba-tiba ada mobil dari arah samping. Si pemain berteriak di tempat padahal masih mempunyai kesempatan untuk lari. Tapi itu terlalu klise.

Yang aku harapkan dan sangat inginkan saat ini adalah Meisa menghilang dari muka bumi ini. Aku berharap tidak pernah punya saudara kembar, karena walaupun aku punya, selalu makan hati. Saat akuk menyeberang jalan raya, aku menemukan uang seratus ribu ditengah jalan. “Ah lumayan buat tambahan biaya hidup.” Kataku dalam hati. Tanpa sadar aku berhenti ditengah jalan dan sebuah becak hampir menabrakku. Aku berhasil menghindarinya. Sesaat kemudian yang aku lihat hanyalah cahaya lampu mobil dan suara klakson yang sangat nyaring.

Kubuka mataku perlahan, kepalaku sedikit pusing. Aku berusaha mengenali sekitarku. Ah, ini kan rumah Sarah!

“Udah bangun ya, tadi kamu ketiduran abis cerita sama aku sambil nangis-nangis.” Kata Sarah sambil mengisi gelas dengan air putih.

“Wah masa? Cerita tentang si Meisa ya...”

“Hah Meisa? Bukan, tentang anjing kamu yang mati kemarin.” Kata Sarah seraya menuangkan sirup Maridjan.

Aku bingung. Mengapa Sarah tidak mengenali Meisa? Jelas-jelas aku selalu cerita tentang Meisa ke Sarah. Aku memang punya anjing tapi dia belum mati. Setidaknya sampai kemarin. Aku mencubit lenganku, mungkin ini mimpi di siang bolong. Terasa sakit, dan aku tidak bermimpi. Aku menampar pipiku yang menyebabkan merah di pipi bekas tanda tanganku sendiri, dan hasilnya sama. Ini kenyataan.

Kukira Sarah bercanda. Maka aku pulang lagi ke rumah dengan sedikit perasaan malu. Pasti Bunda dan Meisa akan menertawakanku karena sok-sokan mendramatisir dengan kabur dari rumah.

TING NONG Assalamualaikum, atuk, tu atuk...

Aku termasuk penggemar Upin&Ipin. Alhasil bel rumah kami pun berbunyi seperti itu.

“Eh udah pulang.” Kata Bunda dengan wajah biasa. Aku sudah menyiapkan muka tebal, berjaga-jaga kalau Meisa akan langsung mencemoohku. Nyatanya tidak seperti yang aku kira. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Meisa di rumah ini.

“Bun, Meisa mana?” kataku sambil melemparkan tas ke atas kursi. Bunda mengerinyitkan dahinya.

“Meisa siapa ah...” Bunda melanjutkan memasak. Aneh, Sarah dan Bunda pun tidak kenal Meisa. Jangan jangan ini halusinasiku semata. Aku menutup mataku lalu kubuka kembali tapi tidak ada yang berubah.

Aku melangkahkan kakiku ke lantai atas tempat kamarku dan kamar Meisa berada. Kamar Meisa masih ada disitu tapi ruangan itu seperti sudah dijadikan gudang sejak aku lahir. Aku masih bingung karena kejadian ini terjadi begitu cepat. “Jangan-jangan aku sudah gila.” Pikirku. Setelah meyakinkan diri bahwa aku masih waras, aku sadar bahwa.........keinginanku terkabul!!!

“Yuhuuuuuu....asik asik...” aku berlarian kebawah membuat Bunda kaget. Tapi aku menghiraukannya. Aku harus menikmati saat-saat seperti ini!

Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Hariku di sekolah terasa lebih menyenangkan. Pulang sekolah aku tidak perlu menunggu Meisa pulang dari ekskul bandnya. Di mobil juga tidak ada alunan musik rock berisik yang biasa diputar Meisa.

Sudah seminggu sejak ‘hilangnya’ Meisa. Aku menatap ke luar jendela, memperhatikan anak-anak penjaga sekolah sedang asyik bermain bersama di bawah pohon. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat tingkah laku anak kecil itu.

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan dirimu di hadapan teman-temanmu.” Tiba-tiba Bu Iin, guru bagian kesiswaan masuk dan membawa seorang murid baru. Kami semua langsung memperhatikan. Murid laki-laki dengan semangat berharap murid itu seorang perempuan. Tapi wajah mereka langsung berubah lesu saat yang datang adalah seorang laki-laki.

“Perkenalkan nama saya Arya. Saya pindahan dari.......” Anak itu memperkenalkan dirinya. Yang kuingat hanya namanya, karena aku tidak begitu memperhatikannya. Setelah itu, kegiatan disekolah berjalan seperti biasa. Tiba-tiba saat istirahat di kantin Arya mengahampiriku.

“Hey kamu Meita ya?” dia bertanya sambil meneguk jus jeruk di tangannya.

“Iya, kenapa?”

“Kamu yakin kamu seneng?”

“Hah? Maksud kamu apa? Gangerti.” aku bingung dengan pertanyaannya yang tak tahu berawal dari mana. Arya hanya tersenyum tipis dan beranjak meninggalkanku. Yasudahlah, tidak penting ini. Kulanjutkan menghabiskan timbel di hadapanku dengan lahap.

Pukul 14.00 adalah saat yang dinanti-nanti semua murid. Yap, waktunya pulang sekolah. Aku sedang berjalan menuju gerbang saat kulihat Arya berbelok keluar dari gerbang sekolah. Teringat pertanyaannya yang tidak jelas padaku tadi siang, aku berniat mencegatnya.

“Arya! Arya! Woy!” sambil berlari-lari kecil aku berteriak tapi dia tidak kunjung menoleh sedikitpun.

“Dasar, punya kuping gak sih tuh orang?! Suaraku udah toa gini...” Akhirnya aku putuskan untuk bertanya besok saja. Toh kami juga kan sekelas.

*****

“Ya, aku masih bingung sama pertanyaan kamu kemaren, ujug-ujug nanya kayak gitu.” Aku menghampiri meja Arya. Dia sedang asyik mendengarkan musik melalui headset nya.

“Hm?” Katanya lempeng dan memasang headset nya kembali. Dia langsung pergi keluar kelas, entah kemana.

Kalau diperhatikan, dari kemarin dia tidak terlihat mencoba bergaul dengan siapapun. Duduk sendiri, ke kantin sendiri. Tidak pernah terlihat bersosialisasi. Hari ini juga begitu. Arya terkesan misterius. Muncul rasa ingin tahuku, aku memutuskan akan ngestalk dia pulang sekolah.

Bel pulang berbunyi. Aku buru-buru membereskan buku dan alat tulis agar tidak ketinggalan jejak Arya. Kuikuti dia kelaur gerbang sekolah dan berjalan di trotoar. Dia berjalan sendirian dengan santai. Supaya tidak ketahuan, aku bersembunyi di balik pohon-pohon di sepanjang jalan. Lama-lama dia terlihat mulai curiga. Dia menengok ke belakang, aku langsung bersembunyi di balik pohon. Dia berjalan menuju pohon tempataku bersembunyi, lalu aku bergeser dengan hati-hati. Dia mengecek di sisi kiri dan kanan pohon. Kalau dipikir-pikir seperti adegan di film-film bollywood ya. Tiba-tiba aku kehilangan jejak Arya. Dia menghilang entah kemana saat aku membetulkan tali sepatuku yang terlepas.

“Sial! Ah udah capek-capek jalan berapa kilo ini...” dengan perasaan kecewa aku pulang kerumah.

***

“Mei, aku mau ngejelasin yang kemarin.” Arya tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang.

Aku yang sedang asyik melakukan kegiatan rutin sebelum bel masuk sekolah-menyalin PR sejarah langsung kaget.

“Tapi gak disini ya.” Arya mengisyaratkanku untuk pergi ke kantin. Aku mengikutinya saja.

“Jadi gimana?” tanyaku dengan antusias pada Arya.

“Jadi gini....tapi kamu harus percaya karena aku sama sekali tidak bercanda.” Aku mendengarkan dengan seksama.

“Kamu harus milih...mau terus dengan keadaan kayak gini atau balik lagi ke kehidupan kamu yang dulu. Yang sekarang, kehidupan gara-gara adik kamu tidak pernah dilahirkan atau yang dulu waktu kamu masih punya adik.”

Aku kaget bukan main. Tau darimana Arya tentang hal ini? Aku tidak pernah cerita sama siapapun kalau dulu aku pernah meminta agar Meisa tidak pernah dilahirkan dan sekarang terkabulkan.

“Hah tau darimana kamu?!” aku kaget sampai mendorong kursiku sendiri.

“Aku semacam...orang yang dikirim dari khayangan untuk menentukan takdir kehidupanmu.”

“Takdir kehidupan gimana maksudnya??”

“Intinya, aku hanya bertugas untuk memberikan pilihan terakhir padamu. Kalau kamu mau, kamu masih bisa mendapat kehidupanmu yang dulu. Kalau kamu bersikeras dengan kehidupanmu yang sekarang, kamu harus siap menanggung resikonya.” Arya menjelaskan dengan wajah lempeng. Kalau begitu...dia bukan manusia?

“Jadi kamu bukan orang dong...”

“Sudahlah gapenting. Yang penting sekarang kamu pilih baik-baik.”

Kalau itu benar...maka aku perlu waktu untuk memikirkan itu. Memang sih awalnya aku senang sekali dengan hilangnya Meisa. Tapi melihat anak-anak kecil yang bermain dibawah pohon tadi....aku teringat hebohnya aku dan Meisa kalau bercanda dan bertengkar. Dirasa-rasa sepi juga tanpa semua hal itu. Tapi di sisi lain, aku bahagia karena Bunda hanya sayang sama aku, tidak terbagi kepada yang lain. Karena hanya akulah anaknya. Aku taku t kehilangan kasih sayang Bunda yang utuh. Aku takut Meisa merebut semuanya lagi.

“Kalau semua ini betulan...aku minta waktu seminggu boleh?” aku berharap Arya mau mengerti.

“Hmmm seminggu kelamaan. Aku hanya bisa kasih waktu 3 hari, lagi pula hanya berpikir saja tidak nyampe seminggu. Ga betah aku disini, pengen cepet-cepet balik ke dunia khayangan.”

Dengan berat hati aku menerimanya. Semoga aku bisa memutuskan yang terbaik.

Hari pertama dari tenggat waktu yang diberikan, aku diam dirumah tidak kemana mana. Bukannya aku bolos, tapi memang hari ini hari Sabtu. Aku memikirkan dengan matang di atas kasurku. Menerawang entah kemana. Hari-hari tanpa Meisa rasanya sepi juga. Tidak ada yang bisa diajak berantem atau cekcok mulut. Tidak ada yang bisa diajak bersaing. Aku tidak bisa menyombongkan kemenanganku pada siapapun, tidak bisa mengejek kegagalan adikku itu. Kupejamkan mataku sampai akhirnya aku tertidur.

“Yasudah....aku memilihuntuk mengembalikan Meisa. Tapi bagaimana caranya?” aku duduk di hadapan Arya, di kantin. Dari kemarin kantin sedang sepi makanya kami tenang saja membicarakan hal ini.

“Caranya....kamu harus kembali ke tempat dimana hidupmu berubah.”

‘Tempat dimana hidupku berubah? Dimana coba.......’ pikirku.

Setelah berpikir keras akhirnya aku ingat saat aku hampir tertabrak saat berencana minggat dari rumah. Pulang sekolah aku menuju jalan raya di depan rumah.

“Lalu apa lagi?”

“Kamu harus ketabrak lagi dong.”

“HAH? Kamu mau bunuh aku?”

“Engga. Waktu itu kan kamu sebenernya ketabrak, dan sebelumnya kamu berharap Meisa tidak pernah ada.” Aku bergidik ngeri. Apa aku benar-benar harus melakukan ini? Sungguh tidak masuk akal. Tapi ya, semua ini memang tidak pernah masuk akal. Sambil memejamkan mata aku berjalan ke tengah jalan. Silaunya lampu mobil dan nyaringnya klakson mobil adalah hal terakhir yang aku rasakan.

Aku membuka mataku perlahan. Cahaya lampu menyilaukan mataku. Kulihat ke sekelilingku, semuanya putih bersih. Terang. Ah mungkin aku sudah di surga. Mungkin yang aku lakukan saat itu adalah suatu kebodohan.

“Ta! Kamu udah sadar??” sayup-sayup terdengar suara cempreng Meisa. Dari arah pintu masuk ternyata ada Bunda dan....Meisa!

Aku menggosok-gosok mataku takut ini semua hanya bayanganku semata. Tapi Meisa menghampiriku dan mencubit pipiku yang sedikit gembul.

“Akhirnya kakakku ini bangun juga!” Meisa tertawa kecil diikuti dengan tangisan haru Bunda. Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Mengapa aku tiba-tiba berada disini dan seakan-akan aku sudah tidur beberapa hari.

“Memangnya aku kenapa?” tanyaku pada Meisa.

“Masa gak inget? Kamu kecelakaan ketabrak mobil di tengah jalan, terus koma seminggu.” Kata Meisa dengan air mata yang menggenang di matanya.Sesungguhnya aku masih tidak begitu memahami semua ini. Tiba-tiba Meisa menghilang, dan sekarang tiba-tiba dia kembali lagi seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku langsung memeluk Meisa dengan erat. Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku. Akhirnya kamu kembali Meisa....

Keesokan harinya dokter sudah mengizinkanku untuk pulang, katanya aku sembuh dengan ajaib, begitu cepat. Sesampainya di rumah, aku menemukan ada sepucuk surat di atas kasurku. Kubaca surat itu,begini bunyinya:

Meita, aku yakin kamu sudah mendapat kehidupanmu yang seperti dulu. Aku harap kamu sudah sadar, bahwa apa yang telah diberikan kepadamu adalah yang terbaik. Walau bagaimanapun, adikmu adalah bagian dari hidupmu juga. Kalau kau memilih kehidupanmu yang kemarin, kamu tidak akan pernah bangun lagi dari koma. Tapi kamu memilih pilihan yang tepat. Maka kau bisa bangun dari mimpi itu.

Salam

Arya

Aku kaget melihat nama penulis surat itu. Terharu sekaligus senang membaca surat itu. Ternyata selama ini yang aku alami adalah semacam ‘mimpi’ untuk menyadarkanku. Sekarang, aku merasa semua jadi lebih baik. Segalanya lebih indah ketika kita bersyukur akan apa yang kita dapatkan.

Rabu, 11 Mei 2011

Bangau Kertas Langit

17 Oktober 2004

Pagi ini tidak ada yang berbeda. Sekumpulan anak yang sedang menyalin PR, bermain gitar dan bermain kartu. Semua tampak sama. Sepintas aku ingin ada yang berbeda hari ini. Berharap sesuatu terjadi.

KRIIIIIING!

Bel masuk sekolah samar-samar terdengar di telingaku, membuyarkan lamunanku. Anak-anak berhamburan kedalam kelas diikuti guru dibelakangnya.

“Siapa yang tidak hadir hari ini?” Tanya Bu Susi, guru bahasa Indonesia di SMA Nusa Bangsa. Mataku menyapu seisi kelas. Lengkap. Tunggu…Langit belum datang.

“Mungkin Langit terlambat, Bu.” kataku pada Bu Susi.

Dua jam. Tiga jam. Empat jam. Langit tidak kunjung datang. Aku agak khawatir dengan sahabatku itu, yang akhir-akhir ini agak berubah. Ya, Langit adalah sahabatku di SMA. Lahir dari keluarga yang kaya raya, tidak membuat dia tinggi hati. Banyak yang iri karena aku dekat dengan Langit, terlebih lagi dengan rupanya yang tampan dan tubuh tinggi semampai. Orangtuanya adalah direktur perusahaan ternama yang mempunyai cabang di luar negeri. Sayang, ibunya meninggal saat dia masih berumur 10 tahun. Langit pernah bercerita bahwa ayahnya sedikit berubah sejak kematian ibunya. Lebih sering berada di luar negeri, bekerja dan bekerja.

Pulang sekolah langsung kuhubungi nomer Langit, tetapi tidak ada jawaban. Kudatangi rumahnya, juga kosong. Tetangganya mengatakan bahwa rumah itu sudah kosong sejak kemarin. Begitupun keesokan harinya. Sama saja.

24 Oktober 2004

Sudah seminggu Langit ‘hilang’. Tidak ada yang tahu keberadaannya sekarang. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunku. Dia pernah berjanji untuk mengucapkan selamat ulang tahun paling pertama. Sepanjang hari aku menunggu ucapan selamat ulang tahun dari Langit. Tapi nyatanya sampai keesokan hari juga tidak ada tanda-tanda dia masih ‘ hidup’. Tiba-tiba seminggu kemudian Bu Susi mengumumkan bahwa Langit tidak lagi sekolah di sini. Aku kaget luar biasa. Dia bahkan tidak berpamitan, tidak memberitahuku kalau dia akan pindah sekolah. Kali ini perasaanku benar-benar campur aduk. Antara sedih dan marah. Marah karena dia pergi tanpa kabar. Sedih karena…aku tidak bisa melihatnya lagi setiap hari, duduk di bangku di belakangku. Jujur aku suka Langit. Aku kagum padanya, dengan cara dia menghadapi hidupnya yang tak seindah yang orang lain bayangkan. Memang benar bahwa uang tidak bisa membeli segalanya, tidak bisa membeli kebahagiaan sebuah keluarga.

Lama aku mencari-cari keberadaan Langit, sampai akhirnya aku benar-benar sampai di ujung jalan. Aku lelah mencari tanpa hasil. Ya, semua yang bertemu pasti akan dipisahkan. Walaupun dengan cara yang tidak diinginkan.

31 Oktober 2004

Minggu berikutnya sekolahku libur. Iseng-iseng kulihat kotak pos di depan rumah. Ternyata ada paket, dan isinya sebuah origami bangau kertas. Aku keheranan. Siapa pula yang mengirim ini? Rasanya aneh ada yang mengirim sebuah bangau kertas. Kusimpan bangau itu di sudut meja belajar. Keesokan harinya aku menerima bangau kertas itu lagi, dengan warna yang berbeda. Begitu pula seterusnya, setiap hari aku mendapat bangau kertas. Karena sudah terlalu banyak akhirnya kusimpan di sebuah toples kaca. Terlihat sangat indah. Tapi aku masih penasaran siapa yang mengirim itu, karena tidak pernah diketahui siapa pengirimnya. Bangau-bangau kertas terus ‘berterbangan’ ke rumahku. Setiap hari, tanpa terlewat satu haripun. Di setiap kertas tertulis angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Sampai akhirnya sampailah pada bangau kertas yang ke 999. Setelah itu aku tidak pernah menerima kiriman bangau kertas lagi. Berhenti sampai disitu.

***

5 Agustus 2007

Kulirik jam tanganku, jarum menunjukkan pukul 10.00 WIB. Dua jam lagi pesawatku akan berangkat menuju Jerman. Akhirnya cita-citaku untuk sekolah di luar negeri tinggal selangkah lagi. Aku berjalan terburu-buru menuju terminal keberangkatan.

BRUK!

“Ah! Maaf banget ya, saya buru-buru!” Kataku sambil memngambil barang-barang yang terjatuh. Mataku tertarik pada sebuah bangau kertas yang tergeletak dilantai. Kuambil bangau itu dan kukembalikan padanya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dulu aku pernah mendapat banyak bangau kertas dari orang tak dikenal, dan aku tersenyum sendiri.

“Itu bangau yang ke-1000.” Orang yang kutabrak berbicara.

“Hah? Maksudnya?”

“Itu bangau kertas yang ke-1000.” Orang tersebut berkata sambil tersenyum. Matanya terlihat berbinar-binar. Wajahnya…mirip seseorang yang dulu aku kenal. Mirip……..

“Ini aku, Langit!”

Aku masih bingung, tambah bingung dengan pengakuannya tadi. Aku mematung, tidak bisa berkata apa-apa. Ya, aku masih ingat Langit. Tiga tahun lalu dia menghilang seperti ditelan bumi. Tanpa kabar dan berita. Aku memperhatikannya cukup lama. Ragu, kaget. Ingin rasanya aku berteriak dan berlarian.

Dia meyakinkanku sekali lagi. Dia mengatakan tentang janji untuk mengucapkan selamat ulang tahun yang tidak ia tepati.

“Karena itu….aku kirim bangau kertas ini setiap harinya sampai 1000 buah sebagai hadiah sekaligus permintaan maaf…..aku harap kamu ingat.” Aku masih tidak bisa percaya itu Langit. Di saat yang tidak terduga, aku bertemu kembali dengannya.

Ternyata selama ini Langit sibuk mengurus perusahaan yang berada dalam masalah, atas permintaan ayahnya yang sakit keras. Beliau meminta Langit untuk tidak pulang ke Indonesia, dan tidak bisa menghubungiku. Memang benar, apabila Tuhan berkehendak, pasti akan terjadi walaupun disaat yang tidak terduga. Tapi aku harus pergi dan kali ini Langit berjanji akan menungguku pulang dari Jerman.

Jumat, 11 Desember 2009

finally

HOREEEY! mari bersorak atas berakhirnya UKBAS I. tapi tadi ada sms yang menyadarkan bunyinya : ewi :
"...masih ada uji mantap 2 & 3...."
heem iyaya omg hahaha

hari ini jumat 11 desember 2009. ruang 18. IPS pengawasnya bu Metty susah susah gampang apalagi yang sejarah sama geografi dan juga ekonomi(semuanya maksudnya) tapi masih mending ekonomilaaah
Bahasa Sunda pengawas pak Kudus -youknow laah- :b

pulaang jam 10 tadinya mau jalan sama sarah n friends (ceilah) tp mereka punya acara sendiri yaudah saya gak jadi ikut. jadinya ke bip pengennya mah nonton Ninja Assassin tapi pada ntn New Moon hemm okedeh gue nonton 2 kali. pas nyampe rumah baru nyadar aku teh lagi boke jadi aja keingetan terus itu uang sayaaang padahal lagi pengen beli sepatu pake duit sendiri B-) yah relakan saja ya nad.

dari kapan gitu asa banyak sms gak jelas mampir ke hp aku hah menuhin memori aja lu!
ngomongin hp jadi inget tadi si cyntia hp-nya diambil doong watir pisan yaaa tabah dan qana'ah ya kawanku :)

Senin, 07 Desember 2009

say hello to UKBAS !

senin 7 Desember 2009. ohya aku bingung kenapa banyak orang yang bilang bulan Desember itu istimewa. ya nggak istimewa juga sih, tapi yaaa intinya mah begitulah. buat aku sih nggak ada arti khusus ya hehe.
tapi Desember punya arti lain : UKBAS! dimulai hari ini dan berakhir tanggal 11 Desember. wow 5 hari laaah 4 hari aja puyeng apalagi ditambah satu hari. Huah!

Mari kita lihat jadwal UKBAS I taun ini

senin - bahasa indonesia, agama
selasa - bahasa inggris, pkn
rabu - matematika, TIK (hemm)
kamis - IPA, seni budaya
jumat - IPS, bahasa sunda

yang ditebelin itu mata pelajaran baru buat ukbas. kayaknya gak cukup ya penderitaan kita sampe ditambah dua mata pelajaran. hahaha yasudahlah mungkin ini sudah suratan takdir (ceilaaah...)

berdoalah sama Allah biar UKBAS nya lancar dan gak ada halangan, semoga bisa dapet nilai yang bagus biar di rapot juga bisa dibanggain sama orangtua kita tersayang
Amiiin

wuahahaha udah ah mau BELAJAR :)

Rabu, 11 November 2009

Penjelasan tentang Pesan Instan dan URL

Pesan Instan (Instant Messaging) :

Pesan instant adalah layanan komunikasi dari internet secara real time, yang menyampaikan pesan disaat orang-orang sedang online. Disini kita dapat bertukar pikiran, file, berbincang dan sebagainya. Piranti lunak yang digunakan adalah Instant Messenger.

Konsep yang digunakan oleh teknologi ini muncul pada awal-awal pengembangan sistem operasi UNIX dan jaringan Internet; para pengguna yang sudah masuk log dapat mengirimkan perintah berupa talk, write, dan finger untuk melihat siapa saja yang sudah masuk log dan akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada mereka.

Istilan pesan instan (instant messaging) saat ini pada umumnya mengacu kepada sebuah teknologi yang dipopulerkan oleh America Online (AOL), yang kemudian diikuti oleh Yahoo! (Yahoo! Messenger), Google, dan Microsoft (Windows Live Messenger)dan perusahaan-perusahaan lainnya.

Perkembangan Instant Messaging diawali ketika mulai maraknya orang menggunakan teknologi secara online pada awal tahun 1990 ketika orang - orang mulai meluangkan banyak waktu untuk mengakses Internet.

Para pengembang piranti lunak menciptakan sebuah software chat room, dimana suatu grup atau perorangan dapat melihat serta mengirimkan pesan kepada sertiap orang yang ada pada “room” tersebut. Penyedia jasa online Quantum Link menawarkan fitur untuk dapat saling berkirim pesan dengan sesama pengguna komputer yang sedang online. Penerapan Instant messaging ini memiliki dasar yang tidak jauh berbeda, yaitu sebuah chat room yang ditujukan untuk dua orang.

Instant Messaging ini mulai meledak di Internet pada November 1996, yaitu ketika Mirabilis memperkenalkan ICQ yang merupakan sebuah Instant Messaging yang dapat dipergunakan secara gratis bagi setiap orang. Pada tahun 1997, AOL menjadi pioneer dalam komunitas online. Hal ini dikarenakan AOL memberikan kemampuan bagi pengguna untuk dapat melakukan komunikasi dalam waktu yang sama dalam sebuah chat room dan instant messaging. Model ICQ inilah yang kemudian menjadi dasar yang penting dalam penggunaan Instant Messaging yang beredar sekarang ini.

Dewasa ini, perkembangan IM telah mengalami kemajuan yang amat pesat. Penggunaan IM yang awalnya hanya dapat diakses oleh para penggunanya melalui komputer, sekarang ini telah dapat diakses melalui telepon genggam. Dengan kemampuan yang dimiliki telepon genggam untuk mengakses internet, maka para pengguna IM dapat mengakses dunia maya kapan saja dan dimana saja.

Di Indonesia sendiri, pengguna IM cukup banyak. Umumnya mayoritas pengguna berasal dari kaum pelajar dan mahasiswa. Menjamurnya piranti lunak seperti mig33, eBuddy, dan lain-lain memungkinkan telepon genggam untuk ber’IM’ ria, membuat para penggemar IM semakin dimanja. Provider telepon genggam seperti telkomsel pun telah memberikan fitur kepada para pelanggan mereka untuk ber’IM’. Selain itu ada juga layanan SMS premium seperti chat n’ date, yang iklannya cukup sering beredar di televisi. IM pada chat n’ date berbeda dengan IM lainnya, karena ia berbasis teknologi SMS. Tidak seperti IM lain, yang berbasis koneksi internet.

URL :

URL atau Uniform Recource Locator adalah system pemberian nama alamat website, yang terdiri dari rangkaian karakter menurut suatu format standar tertentu.

URL merupakan suatu inovasi dasar bagi perkembangan sejarah Internet. URL pertama kali diciptakan oleh Tim Berners-Lee pada tahun 1991 agar penulis-penulis dokumen dokumen dapat merujuk pranala ke Jejaring Jagat Jembar atau World Wide Web. Sejak 1994, konsep URL telah dikembangkan menjadi istilah Uniform Resource Identifier (URI) yang lebih umum sifatnya. Walaupun demikian, istilah URL masih tetap digunakan secara luas.

Disingkat dengan URL. Istilah ini pada dasarnya sama dengan URI, tetapi istilah URI lebih banyak digunakan untuk menggantikan URL dalam spesifikasi teknis. URL merupakan cara penamaan sebuah berkas di Internet. URL menunjukkan bagaimana mendapatkan berkas tersebut di Internet. Contoh dari URL: ftp://ftp.ee.umanitoba.ca/pub/indonesian/00-index.txtprotokol FTP, di mesin yang bernama {ftp.ee.umanitoba.ca}, dan berkas berada di direktori {pub/indonesian}. Secara umum, URL memiliki keterangan sebagai berikut: Protokol yang umum digunakan antara lain: http, ftp, news, file. Nomor port apabila dihilangkan dianggap menggunakan port {80}. Seringkali untuk testing digunakan nomor port {8000}, {8001}, atau {8080}. Penggunaan nomor port diawali dengan tanda {titik dua}. misalnya: {www.detik.com:8080}. Dalam contoh di atas, ditunjukkan bagaimana mendapatkan berkas {00-index.txt}, yaitu dengan menggunakan protokol://nama-mesin[:nomor-port]/direktori/menuju/namafile


Sumber: -Modul Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Wikipedia
-www.total.or.id